Lima gambar, tiga proyek — semuanya visualisasi 3D milik JOGIN sendiri.
Nama klien disamarkan sampai ada izin tertulis untuk menyebutnya.
Catatan desain tiap karya
Ruang Kepala Balai
Balai Monitor SFR Kelas I Yogyakarta · lantai 2 · ±28 m² · Visualisasi 3D
Rasa yang dicari: Ruang ini ingin terasa berwibawa saat menerima tamu, tenang saat dipakai bekerja, dan rapi saat masuk ke layar rapat. Tiga rasa yang berbeda, dalam satu ruangan.
Yang kami wujudkan: Tiga zona dibuat saling membelakangi supaya tidak bertabrakan — meja kerja menghadap pintu, area tamu di sisi jendela, backdrop TV jadi latar rapat.
- Backdrop TV — Layar dipasang di bidang batu gelap, bukan di dinding terang. Latar gelap menahan pantulan lampu plafon supaya layar tetap terbaca saat rapat siang hari.
- Lampu gantung cincin — Digantung di atas area tamu, bukan di tengah ruang. Titik lampu dipakai menandai zona — tanpa perlu sekat yang memakan luas.
- Meja kerja — Meja ditaruh membelakangi dinding peta, jadi kamera video call selalu dapat latar yang rapi dan pimpinan tidak membelakangi pintu.
- Peta wilayah kerja — Bidang di belakang meja diisi peta wilayah kerja instansi. Ini yang bikin ruangnya milik kantor ini, bukan ruang direksi mana pun.
- Kredensa printer — Printer dan berkas disembunyikan di kabinet menerus setinggi pinggang. Permukaan meja utama sengaja dikosongkan supaya ruang tetap layak dipotret.
- Plafon kayu — Plafon diturunkan dan dilapis kayu hanya di sisi tamu. Menurunkan plafon di satu sisi bikin area duduk terasa lebih akrab tanpa menyempitkan ruang kerja.
Void Tangga
Balai Monitor SFR Kelas I Yogyakarta · lantai 1 & 2 · bidang setinggi 2 lantai · Visualisasi 3D
Rasa yang dicari: Bidang tertinggi yang dilihat setiap orang begitu melangkah masuk. Yang dicari: rasa lapang dan berkarakter sejak langkah pertama — bukan sisa ruang yang dibiarkan kosong.
Yang kami wujudkan: Bidang tinggi itu justru dijadikan bidang utama. Susunannya dibuat mengikuti arah naik tangga supaya terbaca dari lantai bawah maupun dari bordes.
- Kisi kayu bergradasi — Panjang tiap batang berubah bertahap mengikuti garis naik tangga. Yang dilihat pengunjung bukan pola tempelan, tapi arah geraknya sendiri.
- Grafis identitas — Diberi cahaya dari belakang, bukan disorot lampu dari depan. Cara ini bikin lambang tetap terbaca tanpa menambah titik lampu dan tanpa silau di mata orang yang menaiki tangga.
- Plafon kisi & tanaman — Plafon dibuat berongga supaya cahaya dari atas turun terpecah. Tanaman gantung dipasang di sisi yang bisa dijangkau tangga servis — perawatan ikut dihitung sejak gambar.
- Garis lampu lantai — Garis cahaya menyusur lantai dipakai sebagai penunjuk arah ke tangga. Fungsinya penanda jalan, bukan hiasan.
- Railing eksisting — Railing lama tidak diganti. Panel dirancang menempel pada dinding di belakangnya, jadi pekerjaan ini tidak menyentuh struktur dan bisa dikerjakan tanpa menutup tangga.
Musholla Kantor
Balai Monitor SFR Kelas I Yogyakarta · lantai 1 · ruang ibadah kantor · Visualisasi 3D
Rasa yang dicari: Yang dicari rasa khusyuk dan teduh, lima kali sehari, oleh orang yang sama. Ketenangan itu gampang hilang hanya karena mukena dan sajadah tidak punya tempatnya sendiri.
Yang kami wujudkan: Dinding kiblat dibuat satu bidang tenang tanpa perabot, dan seluruh penyimpanan didorong ke dua sisi supaya arah pandang saat salat tidak terganggu.
- Bidang kiblat — Bidang kiblat dibuat sedikit menjorok ke dalam dan diberi cahaya dari tepi. Cahaya tepi menandai arah kiblat tanpa perlu lampu sorot yang menyilaukan orang yang bersujud.
- Kaligrafi — Ukurannya ditahan agar tetap terbaca dari saf paling belakang tapi tidak menutupi bidang. Yang mau ditonjolkan bidangnya, bukan ornamennya.
- Rak mukena — Lemari penyimpanan dipindah ke sisi kiri-kanan, di luar arah pandang salat. Rak terbuka berlampu dipilih supaya isinya kelihatan — yang kelihatan lebih mudah dikembalikan ke tempatnya.
- Pembatas kisi — Pembatas saf pria-wanita dibuat setinggi pinggang dan bisa digeser, bukan dinding tetap. Jumlah jamaah kantor berubah-ubah tiap waktu salat.
- Karpet bermotif — Motif karpet dipakai sebagai penanda saf. Garis saf yang sudah ada di lantai menghilangkan perlunya garis tempel yang cepat terkelupas.
Ruang Tata Usaha & P2MKSA
Fakultas Biologi UGM · ruang layanan + staf · Visualisasi 3D
Rasa yang dicari: Yang dicari dua rasa sekaligus: terbuka bagi mahasiswa yang datang, dan tenang bagi staf yang bekerja seharian di ruang yang sama.
Yang kami wujudkan: Alur layanan ditata ulang lebih dulu, baru perabotnya digambar. Meja layanan didorong ke depan, area staf mundur ke belakang partisi rendah.
- Lampu panel menerus — Lampu disusun searah meja, bukan mengikuti grid plafon. Arah lampu yang sejajar meja menghilangkan bayangan tangan sendiri di atas kertas.
- Partisi rendah + tanaman — Tinggi partisi dipatok sebatas duduk: staf tidak saling menatap saat bekerja, tapi tetap kelihatan saat berdiri. Bak tanaman di atasnya menaikkan batas pandang tanpa menaikkan dinding.
- Lemari arsip bernomor — Pintu lemari diberi nomor 01–06 sejak gambar, bukan ditempel belakangan. Arsip fakultas dicari orang lain, bukan cuma pemiliknya.
- Partisi kisi hitam — Kisi tegak dipakai memisahkan jalur mahasiswa dari jalur staf. Terbuka supaya ruangnya tetap terbaca satu, tapi cukup jelas sebagai batas.
- Meja layanan — Meja pertama sengaja dibuat paling dekat pintu dan paling menonjol, supaya orang yang baru masuk tahu harus ke mana tanpa bertanya.
- Dinding tanaman — Ditaruh di ujung pandang ruang panjang sebagai titik henti. Tanpa titik henti, ruang memanjang terasa seperti lorong tanpa ujung.
Ruang VIP Klinik
Yogyakarta · ruang tunggu VIP · ±16 m² · Visualisasi 3D
Rasa yang dicari: Yang dicari rasa tenang dan terlindungi — ruang ini dipakai orang yang sedang tidak ingin dilihat. Kecil, tapi tidak boleh terasa menekan.
Yang kami wujudkan: Ruang dibuat terasa lebih besar lewat kedalaman, bukan lewat cermin: bidang dibuat berlapis dengan cahaya tersembunyi di setiap lapisnya.
- Bidang identitas — Satu titik pandang utama ditaruh tepat di depan tempat duduk. Ruang kecil hanya sanggup menampung satu titik perhatian — lebih dari itu langsung terasa sesak.
- Kabinet atas — Kabinet tinggi dibuat polos tanpa pegangan tarik. Bidang rata di ketinggian mata menahan ruang kecil supaya tidak terlihat penuh sambungan.
- Rak berlampu garis — Lampu garis dipasang di bawah tiap ambalan, bukan lampu sorot dari plafon. Cahaya dari dalam rak menambah kedalaman ruang tanpa menambah panas di atas kepala.
- Ambalan marmer — Ambalan menerus dipakai menggantikan meja lepas. Di ruang 16 m², setiap perabot berkaki menghabiskan lantai yang tidak bisa diganti.
- Sofa — Sofa dipilih yang punggungnya tidak melebihi tinggi ambalan, jadi bidang belakangnya tetap terbaca utuh dari pintu.